Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi, tidak satupun makanan lain yang dapat menggunakan ASI, karena ASI mempunyai kelebihan yang meliputi tiga aspek yaitu aspek gizi, aspek kekebalan dan aspek kejiwaan berupa jalinan kasih sayang penting untuk perkembangan mental kecerdasan anak (Depkes RI, 2005).
Menyusui adalah suatu proses ilmiah. Berjuta-juta ibu di seluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI bahkan ibu yang buta huruf pun dapat menyusui anaknya dengan baik. Walaupun demikian dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu mudah (Utami Roesli, 2009).
Teknik menyusui merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ASI dimana bila teknik menyusui tidak benar, dapat menyebabkan puting susu lecet dan menjadikan ibu enggan menyusui sehingga bayi tersebut jarang menyusu. Enggan menyusu akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Namun sering kali ibu- ibu kurang mendapatkan informasi tentang manfaat ASI dan tentang menyusui yang benar (Utami Roesli, 2005). Menurut Maribeth Hasselqist (2006) Kendala terhadap pemberian ASI telah teridentifikasi, hal ini mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi dari pihak perawat kesehatan bayi, praktik-praktik rumah sakit yang merugikan seperti pemberian susu formula dan suplemen bayi tanpa kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada periode pasca kelahiran dini, kurangnya dukungan dari masyarakat luas. Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham tentang cara menyusui yang benar, kegagalan menyusui sering dianggap sebagai problem pada anaknya saja. Selain itu ibu sering mengeluh bayinya sering menangis atau “menolak” menyusu, dan sebagainya yang sering diartikan bahwa ASI nya tidak cukup, atau ASI nya tidak enak, tidak baik ataupun pendapatnya sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui. Pada bayi masalah dalam menyusui yaitu sering menjadi “bingung puting” atau sering menangis, BB bayi turun, bahkan bisa menyebabkan bayi kuning (ikterik) karena bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup. Dampak dari teknik menyusui yang salah pada ibu yaitu ibu akan mengalami gangguan proses fisiologis setelah melahirkan, seperti puting susu lecet dan nyeri, payudara bengkak bahkan bisa sampai terjadi mastitis atau abses payudara dan sebagainya (Suradi dan Hesti, 2004). United Nations Children’s Fund (UNICEF) menyebutkan bukti ilmiah yang dikeluarkan oleh jurnal pediatric thun 2006, terungkap data bahwa bayi yang diberi susu formula memiliki kemungkinan meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya dan peluang itu 25 kali lebih tinggi daripada bayi yang disusui ibunya secara eksklusif. Menurut UNICEF faktor penghambat terbentuknya kesadaran orang tua dalam memberikan ASI eksklusif adalah ketidaktahuan ibu tentang pentingnya ASI, cara atau teknik menyusui yang benar, serta pemasaran yang dilancarkan secara agresif oleh produsen susu (UNICEF,2008). Berdasarkan data yang diperoleh dari profil kesehatan kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2009 menargetkan pencapaian ASI eksklusif adalah sebanyak 55%. Pada kenyataanya, data yang tercatat menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif sekitar (40,21%) dan Kabupaten Rembang merupakan cakupan ASI esklusif terendah ke-6 berjumlah 606 (12,93%) dari 36 Kabupaten (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Semarang, 2009). Data yang didapatkan di kabupaaten Rembang pada tahun 2010 sebesar (39,29%) masih belumhasil penelitian Winarno (1990), menggolongkan bahwa berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan laktasi yaitu, faktor ibu 39,7%, faktor bayi 36,7%, teknik menyusui 22,1%, faktor anatomis payudara 1,5%. Pada dasranya gangguan laktasi tersebut dapaat dicegah dan diatasi sehingga tidak menimbulkan kesukaran. Suatu contoh kasus misalnya sekitar 57% dari ibu menyusui menderita kelecetan putingnya. Hasil penelitian Dewi Masitoh (2009) bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu post partum primipara dengan teknik menyusui yang benar menunjukkan 42 responden didapatkan responden yang berpendidikan dasar (SD,SMP) sebanyak 8 responden (19%), yang berpendidikan tinggi sebanyak 2 responden (4,8%) dan sebagian besar responden berpendidikan menengah (SMA) yaitu sebanyak 32 (76,2%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan 15 responden (35,7%) berpengetahuan baik, 16 responden (38,1%) berpengetahuan kurang. Praktik menyusui ibu dengan kategori baik sebanyak 26 responden (61,9%) dan kategori tidak baik sebanyak 16 responden (38,1%). Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Mei 2011 terhadap 10 ibu menyusui (0-6 bulan) di Desa Leteh yaitu 8 (80%) ibu menyusui mengalami puting susu lecet dan2 (20%) ibu menyusui tidak mengalami puting susu lecet sedangkan 7 (70%) ibu menyusui tidak mengetahui tentang teknik menyusui yang benar dan 3 (30%) ibu menyusui mengetahui tentang teknik menyusui yang benar dan 6 (60%) berpendidikan lulus SMA, 2 (20%) lulusan SD dan 3 (30%) Perguruan Tinggi serta 7 (70%) serta ibu tidak bekerja dan 3 (30%) ibu bekerja. Tingkatan pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberikan respon. Semakin ibu yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang ada, sebaliknya ibu yang berpendidikan rendah maka akan memberikan respon masa bodoh terhadap informasi. Dengan pendidikan yang rendah baik secara formal maupun informal meyebabkan ibu kurang memahami tentang teknik menyusui yang benar (Notoadmojo, 2003).
Pekerjaan ibu akan berpengaruh terhadap cara menyusui yang benar dikarenakan ibu yang bekerja akan mempunyai waktu yang sempit untuk menyusui anaknya sehingga ibu tidak terlalu memperhatikan perawatan terhadap bayinya dan kurangnya kesabaran dalam menyusui bayinya maka kegagalan dalam proses menyusui sering terjadi (Utami Roesli, 2005).
Pengetahuan ibu tentang teknik menyusui yang benar sangat penting sebab dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langsung diterima dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoadmojo, 2003).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar